Zat Besi untuk Anak: Fungsi dan Cara Mendapatkannya

Zat besi untuk anak ternyata memiliki peran yang begitu besar dalam pertumbuhannya. Perkembangan buah hati kita bukan hanya terlihat saat ia tumbuh menjadi remaja aktif, namun sejak di dalam kandungan. Itulah sebabnya sejak di dalam kandungan hingga masa tumbuh kembangnya Ibu harus memberikan segala nutrisi yang dibutuhkan, salah satunya adalah zat besi. Mineral zat besi untuk anak berfungsi dalam pembentukan protein hemoglobin dalam sel darah merah di mana fungsinya adalah untuk menyebarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh (1).

Apabila janin, balita atau anak kekurangan zat besi, otomatis suplai oksigen akan terhambat dan mengakibatkan banyak masalah kesehatan termasuk kondisi stunting, kondisi ketika penyerapan gizi dalam tubuh terhambat (1,2). Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk memperhitungkan kecukupan zat besi untuk anak di rumah, karena perannya dalam mendukung pertumbuhan otak, fisik, saraf, metabolisme, menunjang fungsi sel dan mendukung produksi sejumlah hormon serta imun tubuh (1,2).

Kebutuhan anak akan zat besi sudah seharusnya menjadi prioritas mengingat kekurangan nutrisi ini juga dapat memicu anemia atau kondisi kekurangan sel darah merah (4). Di Indonesia sendiri, menurut data dari RISKESDAS tahun 2018, ditemukan bahwa 1 dari 3 anak usia di bawah 5 tahun menderita anemia, dan hampir 60% kasus anemia pada anak disebabkan oleh defisiensi zat besi. Dari data ini dapat kita simpulkan bahwa zat besi untuk anak memang memiliki peran penting yang tidak boleh kita abaikan.

Ciri Anak Kekurangan Zat Besi

Fakta di atas menjadi bukti nyata bahwa memperhatikan pola makan termasuk konsumsi multivitamin yang mendukung pemenuhan mineral tersebut penting untuk dilakukan sejak dini, apalagi jika diketahui bahwa si Kecil menunjukkan gejala defisiensi zat besi tersebut. Ayah dan Ibu harus lebih waspada jika sudah menemukan beberapa ciri-ciri anak kekurangan zat besi pada anak, seperti (2)

  • Kulit tampak pucat
  • Nafsu makan menurun
  • Terhambatnya tumbuh kembang anak
  • Sering mengalami infeksi karena imun tubuh yang lemah
  • Kurangnya zat besi untuk anak juga dapat membuatnya sulit berkonsentrasi
  • Detak jantung tidak teratur
  • Memiliki kebiasaan makan makanan minim gizi, misalnya mengunyah es batu atau benda lain yang tidak lazim

Kebutuhan Zat Besi untuk Anak

Sebagai orang tua yang baik, Bunda pasti menginginkan kebutuhan gizi buah hati tercukupi supaya perkembangannya sempurna. Agar dapat lebih memahami seberapa banyak zat besi yang dibutuhkan anak di setiap fase tumbuh kembangnya, berikut ini adalah informasi kebutuhan zat besi untuk anak yang bisa dijadikan acuan (3):

  • Usia 0 – 6 bulan: 0.27 miligram/ hari
  • Usia 6 – 12 bulan: 11 miligram/ hari
  • Usia 1 – 3 tahun: 7 miligram/ hari
  • Usia 4 – 8 tahun: 10 milligram/ hari 

Jika dilihat dari keterangan tersebut, mungkin angka yang terpampang terlihat kecil. Namun, perlu diketahui juga dalam setiap porsi makanan yang dikonsumsi belum tentu bisa memenuhi kebutuhan zat besi untuk anak setiap hari. Itulah alasannya seringkali disarankan bahwa terutama di masa pertumbuhan, anak perlu mengonsumsi berbagai menu makanan bergizi seimbang termasuk dengan memperbanyak makan makanan yang tinggi zat besi

Risiko Kekurangan Zat Besi untuk Anak

Setelah buah hati tidak lagi mengkonsumsi ASI, maka ia akan membutuhkan sumber zat besi lainnya baik dari makanan seperti sayuran, daging merah, jeroan ataupun susu formula yang mengandung zat besi (3). Kendati beberapa bahan makanan mungkin tidak cocok di lidahnya, namun Bunda tetap harus memantaunya mengingat ada berbagai resiko kekurangan zat besi yang sangat mungkin dialami buah hati, seperti:

  • Anemia. Kekurangan zat besi untuk anak dapat meningkatkan risiko terkena anemia. Anemia adalah kondisi di mana tubuh tidak bisa memproduksi hemoglobin atau sel darah merah dalam jumlah cukup. Akibatnya, pasokan oksigen tidak bisa disebarkan ke seluruh tubuh dan menyebabkan mudah lelah, lesu, pucat dan lemas. Kurangnya sel darah merah juga sering dihubungkan ke masalah malnutrisi karena jumlah darah yang bertugas menyalurkan sari makanan tidak mencukupi (5). Anemia sendiri sebenarnya lebih umum dialami oleh wanita karena siklus menstruasi atau masa kehamilan, namun tidak menutup kemungkinan penyakit ini juga diidap oleh balita & anak (3).
  • Stunting. Zat besi untuk anak dapat membantu pertumbuhannya baik secara fisik maupun mental. Jika buah hati sampai kekurangan zat besi di masa ini, risikonya adalah terjadi stunting. Stunting adalah kondisi di mana terjadi hambatan dalam penyerapan gizi oleh tubuh. Hal ini tentunya tidak boleh dibiarkan karena kegagalan penyerapan nutrisi dapat berimbas ke keterlambatan perkembangan dan pertumbuhan anak (1).
  • Berat badan rendah. Apabila asupan zat besi untuk anak tidak tercukupi, maka dapat mengakibatkan berat badan yang kurang ideal. Hal ini bisa disebabkan oleh kurangnya zat besi karena jumlah sel darah yang kurang membuat nutrisi dari makanan tidak bisa diserap dan disebarkan dengan baik ke seluruh tubuh. Berat badan yang rendah ini erat kaitannya dengan kondisi stunting yang bisa dialami oleh anak di bawah usia 5 tahun (5).
  • Susah berkonsentrasi. Alasan lain mengapa zat besi untuk anak memiliki peran penting dalam masa pertumbuhannya adalah karena zat besi dapat membantunya untuk lebih fokus. Jika anak kekurangan zat besi, maka asupan oksigen ke otak dan saraf juga akan terhambat. Alhasil, otak jadi kesulitan untuk fokus yang akan mempengaruhi daya tangkap dan prestasi anak di usia sekolah (2).
  • Mudah lelah. Kurangnya zat besi untuk anak dapat membuatnya jadi mudah letih dan lesu. Si kecil jadi tidak bertenaga, karena kondisi ini biasanya juga berhubungan dengan kondisi anemia yang mungkin dialami oleh buah hati ketika dia kekurangan zat besi (4).
  • Masalah perilaku. Jika Bunda memperhatikan anak memiliki tanda-tanda perilaku yang tidak biasa, hal ini bisa dipengaruhi oleh kurangnya asupan zat besi untuk anak yang akan berpengaruh pada perkembangan saraf anak. Masalah perilaku pada anak bukan hanya sering rewel atau susah diatur, namun juga kebiasaan makan makanan rendah gizi seperti mengunyah es batu, memakan tanah, dan sebagainya (4).

Cara Mencukupi Kebutuhan Zat Besi untuk Anak

Penjelasan mengenai resiko yang bisa ditimbulkan dari kurang asupan zat besi seharusnya bisa menjadi alarm bagi orang tua untuk selalu memastikan buah hati tidak kekurangan mineral tersebut. Apalagi jika anak sudah bukan lagi bayi yang minum ASI, ada beberapa hal yang mesti dilakukan supaya kebutuhan zat besinya tercukupi:

1. Perbanyak konsumsi makanan tinggi zat besi

Zat besi untuk anak bisa didapatkan dari berbagai jenis sumber makanan. Mengingat pentingnya zat besi dalam proses pertumbuhannya itu, Bunda bisa memperbanyak makanan sumber mineral tersebut yang bisa ditemukan pada bayam, daging merah, jeroan ayam atau sapi, serta kacang-kacangan. Imbangi juga kebutuhan zat besi untuk anak Anda dengan konsumsi makanan kaya vitamin C seperti paprika, tomat, jeruk dan jambu karena vitamin ini membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh (2).

2. Hindari makanan dan minuman berkafein

Jika sudah memenuhi kebutuhan zat besi si Kecil melalui makanan yang dikonsumsi, pastikan orang tua tidak memberikan makanan ataupun minuman dengan kandungan kafein, misalnya saja coklat, kopi dan juga teh karena zat ini bersifat meluruhkan zat besi dalam tubuh yang kemudian ikut dikeluarkan lewat sistem ekskresi (5).

3. Berikan multivitamin dengan zat besi untuk anak

Bila dirasa perlu, jangan ragu memberikan suplemen multivitamin yang mengandung zat besi, zinc dan vitamin C supaya kebutuhan mineral hariannya terpenuhi. Berikanlah sesuai dosis yang disarankan supaya si Kecil bisa merasakan manfaatnya dengan maksimal (3).

Jangan meremehkan kondisi kekurangan zat besi pada anak mengingat resikonya yang beragam dan berbahaya dalam jangka panjang. Dengan memenuhi kebutuhan mineralnya sehari-hari, buah hati bisa tumbuh sehat dan optimal sebagaimana mestinya.

L.ID.MKT.CC.06.2021.1689

 

Artikel ini ditinjau oleh:
Tim Konsultan Medis Medical Advisor Bayer Consumer Health Indonesia

Referensi:

  1. Jessica Remitz. Why Is Iron Important for Your Baby? Parents.  Diakses pada 3 November 2021 dari https://www.parents.com/baby/feeding/nutrition/why-iron-is-important/

  2. Kathy W. Warwick. 10 Iron-Rich Foods Your Toddler Needs. Healthline. Diakses pada 3 November 2021 dari https://www.healthline.com/health/parenting/iron-rich-foods-for-toddlers#which-foods-to-feed-them

  3. Iron needs of babies and children. Caring for Kids. Diakses pada 3 November 2021 dari https://caringforkids.cps.ca/handouts/pregnancy-and-babies/iron_needs_of_babies_and_children

  4. Mary L. Gavin. Iron. Kids Health. Diakses pada 3 November 2021 dari https://kidshealth.org/en/parents/iron.html

  5. Iron Deficiency. Better Health. Diakses pada 3 November 2021 dari https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/iron-deficiency-children#diagnosis-of-iron-deficiency

 
Dapatkan

Tonikum Bayer

Untuk penuhi kebutuhan multivitamin, mineral, dan zat besi.

Produk Tonikum Bayer
Tonikum Bayer

Multivitamin dengan kandungan zat besi, kalsium, mangan, zinc, vitamin B1, B2, B3, B6, dan B12.

 

Beli Tonikum Bayer Online

Untuk menghemat waktumu, penuhi kebutuhan multivitamin, mineral,
dan zat besi dari Tonikum Bayer secara online.

Beli Sekarang